Welcome to Blog's Nurdilamongan.co.cc

Blogroll

Selasa, 14 Februari 2012

sistem penilian mengajar

Text Box: UNTUK KALANGAN SENDIRI




PEDOMAN SISTEM PENILIAN
MA SALAFIYAH
YAYASAN PONDOK PESANTREN AL FATTAH
Oleh NURDI,S.Ag M.Pd



MA SALAFIYAH, BISA !
Disajikan Dalam Pelatihan Pembuatan Perangkat
 Mengajar Dan Pengelolaan Sisten Penilian Pendidikan
Pada Tanggal 23 September 2010










MA SALAFIYAH
YAYASAN PONDOK PESANTREN AL FATTAH
SIMAN SEKARAN LAMONGAN 62261
2010




BAB 1
 KONSEP DASAR
STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

A.    Penilaian hasil belajar peserta didik pada madrasah dilaksanakan berdasarkan stadar penilaian pendidikan
B.     Pengertian
1.      Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan  dengan mekanisme, prosedur dan instrument penilaian hasil belajar peserta didik.
2.      Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik
3.      Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran dan menentukan keberhasilan peserta didik.
4.      Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodic  untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu kompetensi dasar/KD  atau lebih.
5.      Ulangan tengan semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mencapai kompetensi peserta didik setelah melakukan 8-9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan meliputi seluruh indicator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.
6.      Ulangan akhir semester  adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi  peserta didik  diakhir semester. Cakupan ulangan melipti seluruh indicator yang mempresentasikan seluruh KD pada semester tersebut
C.     Prinsip penilian
Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip :
1.      Sahih, penilain didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur
2.      Objektif, penilian didasarkan pada prosedur dan kreteria yang jelas , tidak dipengarui subjektivitas penilai
3.      Adil, penilian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama,suku,budaya,adat,status social ekonomi, dan gender
4.      Terpadu, penilian oleh peserta didik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran
5.      Terbuka, prosedur penilian ,kreteria penilian dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan
6.      Menyeluruh dan berkesinambungan, penilian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilian yang sesuai untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
D.    Penilian oleh pendidik
Penilian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan, bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektifitas kegiatan pembelajaran. Penilian tersebut meliputi kegiatan sebagai berikut :
1.      Menginformasikan silabus matapelajaran yang didalamnnya memuat rancangan dan kreteria penilian pada awal semester
2.      Mengembangkan indicator pencapian kd dan memilih teknik penilian yang sesuai pada saat menyusun silabus mata pelajaran
3.      Mengembangkan instrument dan pedoman penilian sesuai dengan bentuk dan teknik penilian  yang dipilih
4.      Melaksanakan tes,pengamatan,penugasan atau bentuk lain yang diperlukan
5.      Mengolah hasil penilian untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik
6.      Mengembalikan hasil pemeriksaan pekerjaan peserta didik disertai balikan/komentar yang mendidik
7.      Manfaat hasil penilian untuk perbaikan pembelajaran
8.      Melaporkan hasil penilian mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada pimpinan satuan pendidikan dalam bentuk satu nilai prestasi belajar peserta didik disertai deskripsi singkat sebagai cermin kompetensi utuh


































BAB II
TEKNIK PENILAIAN

Beragam teknik dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan  belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar mengajar  maupun hasil belajar mengajar. Teknik pengumpulan informasi  tersebut pada prinsipnya adalah cara penilian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan standar kompetensi dasar yang harus dicapai
Penilian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indicator-indicator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Berdasarkan indicator – indicator ini dapat ditentukan cara penilian yang sesuai , apakah dengan tes tulis, observasi, tes praktek dan penugasan perorangan atau kelompok. Untuk itu dalam penilian hasil belajar siswa ada tujuh teknik yang dapat digunakan, yaitu penilian ;
a. unjuk kerja                                     b. sikap
c. tertulis                                 d. proyek
e. produk                                f. portopolio
g. penilian diri
Penyajian profil teknik penilian berikut ini, diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi guru MA Salafiyah  untuk menganekaragamkan teknik dalam melaksanakan evaluasi. Dalam arti ketika melaksanakan ulangan harian guru tidak terpaku pada penilian tulis saja tapi mampu menggunakan teknik-teknik yang lain sesuai dengan SK dan KD. Dengan demikian  peserta didik lebih tertantang dan lebih banyak lagi ranah yang dinilai sehingga memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang peserta didik.

1.      PENILAIAN UJUK KERJA
a.       Pengertian
Penilian unjuk kerja merupakan penilian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menutut peserta didik melakukan tugas tertentu ,seperti kemampuan membaca al qur’an ,menerapkan tajwid, praktek sholat dll. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik dari pada tes tulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.
Penilaian unjuk kerja ini perlu memperimbangkan hal -hal sbb ;
1.      Langkah langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi
2.      Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut
3.      Kemampuan – kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas
4.      Upaya kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak sehingga semua dapat diamati
5.      Kemampuan akan dinilai diurutkan berdarakan urtan yang diamati
b.       Tehnik penilian unjuk kerja
Untuk  mengamati unjuk pekerja peserta didik dapat menggunakan alat atau istrumen ;
a. daftar cek ( check list )
Penilian unjuk kerja dapat dilaukan dengan menggunakan daftar cek.Dengan menggunakan daftar cek  peserta didik mendapatkan nilai bila kreteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai. Contohnya

Penilian Praktek sholat

Nama siswa         ; Ifa hidayatur rohmah
Kelas                     ; XI ipa
Aspek                    ; al qur’an
SK                                     ; Memahami ayat ayat al qur’an tentang
                                 Kompetisi dlam kebaikan
KD                        ; Membaca qs al baqoroh 148 dan al fatir 32
Indikator               ; siswa mampu membaca  qs al baqoroh
                                148 dan al fatir 32





NO
ASPEK YANG DINILAI
 NILAI
Baik
Kurang
1
Pakaian pantas dan menutot
v

2
Mahraj

v
3
Mad /Panjang pendek bacaan
v

4
Dst…


Jumlah skor  /JS


Nilai akhir


Keterangan :
1.      Pengisian kolom menggunakan cek/v
  1. Untuk mempermudah penafsiran cek dapat diberikan skor  sbb;
a.      nilai baik skor 10 bila nilai kurang skor 0
b.      jumlah skor = jml skor benar +jml skor salah
c.       nilai akhir = jml skor : jumlah aspek yg dinilai
d.      nilai akhir >7.0 =tuntas  bila     7 = belum tuntas
e.       aspek yang masih kurang harus diperbaiki

b. Skala penilian /rating scale
Penilian unjuk kerja yang menggunakan scala penilaian memungkinkan penilai menggunakan  nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena  pemberian nilai secara kontiyu  contoh











MEMBACA AL QUR’AN
Kelas                     ; x/1
Aspek                    ; al qur’an
SK                                     ; memahami ayat ayat tentang keikhlasan
                                Dalam beribadah
KD                        ; Membaca surat al an’am 162-163 dal al
                                Bayyinah 5
No
Nama
KEMAMPUAN PENERAPAN
NILAI
A
B
C
D
E
1
Robiatul ad
V




85
2
Abd.Rozaq
V




80
3
Iffa hidayatu r
V




90
4
Rido Husnul


V


65
5
Rahmadiyah putri
V




90
6
DST…






Keterangan ;
A; membaca dengan lancer dan baik           ; 80-100
B; memaca belum baik                       ; 70-79
C; membaca terbata-bata                  ; 60-69
D; membaca dengan bantuan guru  ; 50-59
E; tidak dapat membaca                    ; kurang dr 50
Penetapan kesimpulan dapat dilakukan sbb ;
-          nilai 80-100 = kompeten ( tindak lanjut ; diperkaya dilanjutkan )
-          nilai 70-79 = cukup competen (tindak lanjut ; diingatkan )
-          nilai     kurang 70 = belum kompeten (tindak lanjut ; diperbaiki )






2. PENILAIAN SIKAP

a.    Pengertian
Sikap bermula dari perasaan \( suka atau tidak suka\) yang terkait dengan kecenderungan  seseorang dalam merespon sesuatu/obyek.  Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup  yang dimiliki seseorang . sikap dapat dibentuk sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan.
Sikap terdiri dari tiga komponen ; afektif merupakan perasaan yang dimiliki seseorang atau peniliaannya terhadap suatu obyek kognitif merupakan kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai obyek konatif merupakan kecenderungan untuk berprerilaku atau berbuat dengan cara cara tertentu berkenaan dengan kehadiran obyek sikap.
Secara umum  objek sikap yang dinilai dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut ;
  1. sikap terhadap materi pelajaran ; peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap materi pelajaran. Dengan sikap positif dalam diri peserta didik akan tumbuh dan berkembang minat belajar akan lebih mudah diberi motivasi dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan.
  2. Sikap terhadap guru/pengajar ; pesrta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru. Peserta didik yang bersikap negative terhadap guru akan cenderung mengabaikan hal hal yang diajarkan  dengan demikian akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut
  3. Sikap terhadap proses pembelajaran ; peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran  mencakup suasana pembelajaran strategi metodologi teknik yang digunakan. Proses pembelajaran yang menarik nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik  sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal
  4. Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu materi pelajaran ; peserta didik memiliki sikap tertentu ( positif/negative)yang dilandasi oleh penghayatan terhadap SK/KD tertentu misalnya peningkatan etos kerja  maka peserta didik  diharapkan meiliki sikap positif  terhadap perilaku pekerja keras tekunulet dan teliti

b.   Teknik penilian sikap
Penilaian sikap  dapat dilakukan  dengan beberapa cara/teknik. Adapun tersebut antara lain observasi perilakupertanyaan langsungdan laporan pribadi. Tehnik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut ;
1. observasi perilaku
Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan nya terhadap sesuatu hal yang dapat diketahui melalui pengamatan /observasi.oleh karena itu guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil pengamatan tersebut dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. contohnya
No
Hari/tanggal
Nama peserta didik
Kejadian positif/negatif
Tindak lanjut
1
Rabu.22-9-2010
Fitriyatun
Membantu memberikan jawaban yang releven pada saat diskusi
reward
2
Kamis 23-9-2010
M.Saddam Ghofar
Syaifur rizal
Mendngarkan lagu melalui HP pada saat diskusi kelas
Diberi tugas menghfal surat albaqoroh 162-163
3
Dst…..



Kolom kejadian diisi dengan kejadian positif maupun negative. Catatan dalam lembaran buku tersebut selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap peserta didik  serta dapat menjadi  bahan dalam penilian perkembangan peserta didik secara keseluruhan. Selain itu dalam observasi perilaku tertentu yang diharapkan muncul dari peserta didik  pada umumnya atau dalam keadaan tertentu misalnya dalam saat diskusi ; seperti contoh format
Penilaian sikap ;
Kelas                     ; xi/2
Aspek                    ; aklaq
SK                                     ; membiasakan perilaku terpuji
KD                        ; membiasakan perilaku menghargai karya
                                Orang lain dalam kehidupan sehari-hari
No
Nama
Perilaku
Antusias
Bertanya
Menjawab
Menghargai pendapat org lain
1
Aprita
-
v
-
v
2
Mei
-
-
v
v
3
Qoqom
v
v
v
-
3
Dst….




b.       Pertanyaan langsung
Kita juga dapat menayakan secara langsung atau wawancara tentang sikap seseorang yang berkaitan dengan suatu hal. Misalnya bagaimana tanggapan  peserta didik tentang program ‘ pekan peduli du’afa’
berdasarkan jawaban dan reaksi yang tampil dalam memberi jawaban akan dapat difahami sikap peserta didik terhadap program tersebut. Agar terarah dan memberi informasi maka terlebih dahulu guru membuat pedoman wawancara
c. Laporan pribadi
Melalui penggunaan tehnik ini  peserta didik diminta membuatan ulasan yang berisi pandangan atau tanggapan tentang suatu masalah keadaan atau hal yang menjadi obyek sikap. Misalnya peserta diminta pandangan tentang ‘ poligami  negative dan positif berpoligami ‘  dari ulasan yang dibuat oleh peserta didik tersebut dapat dibaca dan difahami kecenderungan sikap yang dimiliki. Atau untuk melihat peruahan perilaku /sikap peserta didik keseluruhan khususnya SK/KD pada aspek aqidah aklaq  semua catatan dirangkum dengan menggunakan  lembar pengamatan. Contohnya




LEMBAR PENGAMATN

Nama                    ; Fahrudin
Kelas                     ; xii
Aspek                    ; akhlak
SK                                     ; Meningkatkan keimanan kepada hari
                                Akhir
KD                        ; Menampilkan perilaku yang mencermin
                                Kan keimanan kepada hari akhir
No
Deskripsi perilaku awal
Deskripsi perubahan /pertemuan …hari/tgl..
ST
T
R
SR
1
Mendiminasi pembicaraan pada saat diskusicenderung memaksakan pendapatnya
Senin 20 sep 2010
Memberi kesempatan kepada orang lain untuk memberi kan pendapatnya dan memberikan tanggapan meskipun hanya sesekali






ian





KETERANGAN
Pada kolom capaian diisi dengan  cek sesuai perkembangan perilaku ;
ST ; perubahan sangat tinggi
T ; perubahan tinggi
R ; perubahan rendah
SR ; perubahan sangat rendah
Catatan ; informasi tentang deskripsi perilaku diperoleh dari pertanyaan langsung laporan pribadi maupun buku catatan harian.

3.      PENILIAN TERTULIS
a.   pengerian
Penilian secara tertulis dilakukan dengan tes tulis. Tes tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban  yang dibeikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk lain seperti menjawab secara lesan memberi tandamewarnaimenggambar dan lain sebagainya.
b. teknik penilaian
ada dua bentuk soal tes tulis  yaitu ;
a. memilih jawaban yang dibedakan menjadi ;
1.  pilihan ganda
2.  dua pilahan ganda \( benar-salah. Ya –tidak \)
3.  menjodohkan
4.  sebab akibat
b. mensuplai jawaban di bedakan menjadi ;
1.   isian atau lengkapila
2.   jawaban singkat/pendek
3.  Uraian obyektif ; jawaban uraian yang sudah pasti maupun uraian non obyektif/uraian bebas ; uraian bebas dicirikan dengan adanya jawaan yang bebas
Dalam penyusunan istrumen  penilian tertulis perlu dipertimbangkan hal hal sebagai berikut ;
  1. karakteristik mata pelajaran dan keluasan ruang lingkup materi yang akan diujikan
  2. materi misalnya kesesuaian soal dengan standar kompetensi  kompetensi dasar indicator pencapaian pada kurikulum
  3. kontruksi misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas
  4. bahasa misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda
oleh karena itu guru sebelum melakukan penilian terlebih dulu memetakan materi yang akan diujikan dalam lay out soal dan kisi kisi soal. Berikutnya guru membuat butir butir pertanyaan dalam bentuk format kartu soal .








contoh lay out soal
nama sekolah       ; ma salafiyah
maple                    ; aqidah aklaq
alokasi waktu       ; 90 mneit
smt                        ; ganjil
sumlah soal          ; 45 ( pg;40 easy ;5)
Standar kompetensi
Kompetensi dasar
indikator
Bentuk dan jumlah soal
XXX
XXX
XXX
PG
ESSY
JUMLAH SOAL


Kisi kisi ujian semester ganjil
nama sekolah       ; ma salafiyah
maple                    ; aqidah aklaq
alokasi waktu       ; 90 mneit
smt                        ; ganjil
sumlah soal          ; 45 ( pg;40 easy ;5)

Standar kompetensi
Kompetensi dasar
indikator
kelas
Jml soal
No utur soal
Bentuk soal








Contoh kartu soal
nama sekolah       ; ma salafiyah
maple                    ; aqidah aklaq
smt /tp                 ; ganjil/2010-2011
kelas                      ; x
penyusun              ; nurdi
Kartu soal
Standar kompetensi ;
………..
indikator
No.urut soal
……………

Kunci soal  ;
…………….
Bentuk soal ;
Pg/eassy
Kompetensi dasar ;
……….
Butir soal ;
……………

4.      PENILIAN PROYEK  
Penilian proyek merupakan kegiatan penilian terhadap suatu tugas yang harus diselesikan dalam periode/waktu ter entu. Tugas tersebut mulai perencanaaan pengumpulan data pengorganisasian dan penyajian data
Contoh kegiatan peserta diidk dalam penilian proyek
  1. penelitian sederhana tentang pengumpulan dan pembagian zakat ftirah
  2. penilian sederhana tentang pembangian hewan qurban

contoh ;

TUGAS
Maple        ; pai
Sk              ; memahami hokum islam tentang zakat haji
                     dan waqof
Kd                         ; menerapkan ketentuan perundang2
                     tentang pengelolaan zakat dan waqof
Nm proyek ; pengumpulan zakat fitrah dan zakat mal
Kelas         ; x
Tugas        ; buatlah kepanitiaan diskolah untuk melakukan pengumpulan zakat fitrah dari para guru dan murid kemudian salurkan kepada yang berhak menerima
Ketentuan ;
  1. panitia terdiri dar 10 siswa
  2. laporan dipresentasikan pada minggu seteah lebaran
  3. kerangka laporan
a.      nama kegiatan
b.      ayat dan hadis tentang zakal
c.       tempat pelaksanaan
d.      panitia zakat fitrah
e.       waktu pelaksanaan pengmpulan dan pembagian
f.        jumalh penewimah
g.      jumlah distribus
h.      penutup
untuk menilai proyek peserta didik. Guru membuat format penilaian
PENILIAN PROYEK
KELOMPOK                                                  nilai ; ………
no
aspek
Skor \(1….5 \)
1
Perencanaan
  1. persiapan
  2. rumusan judul

2
pelaksanaan 
a.      sistematika penuisan
b.      keakuratan sumber data
c.       kuantitas sumber data
d.      analsisi dataikan kesimpulan
e.       penar

3
Laporan proyek
  1. perormant
  2. presentasi /penguasaan



5.      PENILIAN PRODUK
Penilian produk adalah penilian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk /karya peserta didik. Penilian produk dalam PAI meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produ. Misalnya  kaligrafi kerajinan tangan bernuansa islam
Penilian produk  biasanya menggunakan cara holistic atau analitik
  1. Cara analitik yaiyu berdasarkan aspek aspke produk biasanya dilaukan terhadap semua criteria  yang terdapat pada  semua tahap proses pengembangan \( persiapan pembuatan produk dan penilian produk \)
  2. Cara holistic  yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk biasanya dilaukan haya pada tahap penilian produk
Misalnya penilian produk





mapele                        ; pai
sk                     ; memahami ajarn ayat ayat al qur an
                            tentang kompetisi dalam kebaikan
kd                    ; menampilkan perilaku kompetisi dalam kebaikan
nama produk             ; membuat kali grafi qs al baqoroh 148
kelas / smt      ; X/1
nama siswa    ;  ZAINUDDIN
no
aspek
Skor \(1….5 \)
1
Persiapan
  1. perencanaan
  2. pemilihan alat dan bahan

2
Proses pembuatan
  1. persiapan alat dan bahan
  2. teknik pembuatan
  3. ks kemanan keselamatan kebersihan

3
Hasil produk
  1. benuk fisik
  2. kretaifitas
  3. keserasian

Nilai = total skor x 100
              Skor maksimal
             Skor maksimal = 40
6.      PENILIAN PORTOPOLIO
Penilian portopolio merupakan penilian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampu peserta didik  dalam suatu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa hasil karya lembar jawaban tes  atau informasi lain yang berkaitan dengan kometensi tertentu dalam suatu mata pelajaran.
7.      PENILIAN DIRI / SELF ASSESSMENT
a.   Pengertian
Penilian diri adalah suatu teknik penilian dimana peserta didik diminta menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu didasarkan atas kreteria atau acuan yang telah disiapkan dengan tujuan utama mendukung/memperbaiki proses dan hasil belajar.
Ada beberapa jenis penilian diri ;
  1. penilian angsung dan spesifik yaitu penilian secara langsung pada saat atau setelah selesai melakukan tugas untuk menilia aspek aspek kompetensi tertentu dari suatu pelajaran
  2. penilian tidak langsung/holistik  yaitu penilian yang dilakukan dalam kurun waktu yang panjang untuk memberikan penilian secara keseluruhan
  3. penilian sosio-afektif yaitu penilian terhadap unsure unsure afektif atau emosional misalnya peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu obyek tertentu
Dampak poisitif dalam penggunakan teknik ini ;
  1. dapat menumbuhkan rasa percaya diri  peserta didik karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri
  2. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dalam dirinya sehingga intrukpeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya
  3. dapat mendorong membiakan dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur  karena dituntut lebih obyektif dalam melakukan penilian
 Penilaian diri
Maple             ; Pai
Sk                    ; Memahami hokum islam tentang keluarga
Kelas/smt     ; x/1
Nama siswa ; …………………….
  MATERI
PAHAM
KET
YA
TDK
1.        pengertian perkawinan
2.        dalil perkawinan
3.        hikmah perkawinan
4.        ketentuan perundang-undangan tentang perkawinan
5.        ……….
RATA-RATA




YA = 10
TIDAK = 0

Semoga melalui tulisan ada guna manfaat dan mohon koreksi demi perbaikan dari tulisan ini

                                                                   

Minggu, 05 Februari 2012

ISLAM KLASIK DAN KAJIAN ISLAM DI MASA DEPAN

ISLAM KLASIK DAN KAJIAN ISLAM DI MASA DEPAN

Fu'ad Jabali
Keseluruhan sejarah Islam adalah pergumulan masyarakat Islam mewujudkan nilai-nilai Islam dalam ruang dan waktu tertentu. Catatan pergumulan tersebut lalu disistematisasi dan dilembagakan di balik nama-nama yang sekarang dikenal: tentang Tuhan dalam kaitannya dengan manusia dan alam disebut aqidah/filsafat, tentang hukum dan segala bentuk aplikasinya disebut fikih (atau, syari'ah), tentang makna al-Qur'an disebut tafsir, sementara cara-cara transmisi Islam dari satu generasi ke generasi lain atau dari satu kelompok masyarakat ke kelompok masyarakat lain disebut tarbiyah. Sebutan lain seperti adab (sejarah dan kebudayaan Islam), sufisme dan dakwah juga menunjuk pada hal yang sama: hasil pencapaian masyarakat Islam dalam menafsirkan dan mentransmisikan Islam.
Di berbagai tempat dimana proses pendidikan Islam berlangsung-termasuk pesantren, masjid, madrasah, majlis taklim, kelompok pengajian dan IAIN-hasil-hasil capaian tersebut dipelajari. Aqidah, fikih/syari'ah, tafsir, sufisme dll. menjadi materi-materi kajian; bahkan di IAIN menjadi nama fakultas seperti Aqidah/Filsafat, Syari'ah, Tarbiyah, Dakwah dan Adab.
Proses pelembagaan Islam tersebut-yaitu proses mengkristalnya Islam dalam berbagai ilmu dan aliran pemikiran atau mazhab-sudah mulai nampak dengan kuat terutama pada abad ke 2-3 H / 8-9 M dengan tokoh-tokoh seperti Malik ibn Anas (wafat th. 179 H / 795 M), Abu Hanifah (wafat 150/767), al-Syafi'i (wafat 204/820) dan Ahmad ibn Hanbal (wafat th. 241/855). Sejak abad ini secara intensif Islam diformulasikan, digeneralisasikan, dan dibuat hubungan antara satu sisi dengan yang lainnya. Yang muncul kemudian adalah Islam yang abstrak dan transenden, Islam yang sudah ditarik dari dunia nyata.
Dengan generalisasi/abstraksi/transendensi, ciri khas Islam, atau kemampuan Islam untuk menyapa problem bawah yang yang sangat beragam, tertekan. Dengan kata lain, pendirian mazhab-dimana generalisasi dilembagakan-telah melahirkan alienasi. Pertama, mengalienasi Islam dari masyarakatnya. Untuk memahami generalisasi dan menurunkannya kembali ke tingkat detil memerlukan pengetahuan yang tidak sedikit sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya (dan mereka inilah yang kemudian disebut ahli agama, kyai, guru, ustaz dll). Mereka ini lalu menjadi semacam medium, lembaga perantara, antara Muslim awam dengan persoalan-persoalan mereka. Kedua, alienasi Muslim dari akar Islam, al-Qur'an dan Hadits. Dengan adanya mazhab kedua sumber itu secara tidak sadar terjauhkan dari umat yang semestinya menjadi pembacanya. Persoalan-persoalan yang timbul tidak lagi diadukan langsung kepada al-Qur'an dan Hadith tetapi kepada mazhab. Ketiga, mengalienasi masyarakat Islam dari Tuhannya. Tuhan kini didekati melalui mazhab, melalui institusi. Keempat, mengalienasi Islam dari persoalan aktual, karena mazhab tersebut dilahirkan pada masa tertentu untuk kebutuhan masyarakat tertentu, untuk merespon problem yang lahir pada masa tertentu, maka persoalan kekinian sendiri terpinggirkan dalam mazhab itu.
Untuk keluar dari kemelut ini, seseorang harus bisa melampaui mazhab. 'Melampaui' berarti memecahkan kembali gumpalan-gumpalan mazhab, menguraikannya, mengembalikannya menjadi pecahan-pecahan kecil, dan menerapkannya pada kasus per kasus keseharian dalam bentuk bahan baku. Dengan cara ini, Islam akan kembali menjadi sederhana seperti masa awalnya, lebih fleksibel untuk dibentuk sesuai dengan ruang dan waktu. Tujuan Islam sebagai wahana mendekati Tuhan dan alat untuk menjawab persoalan-persoalan keseharian akan lebih efektif dicapai karena tidak ada lagi lembaga perantara yang memisahkan umat dengan kedua fungsi tersebut.
Memecahkan gumpalan-gumpalan pemikiran yang sudah berabad-abad tersebut memang tidak mudah. Tetapi itulah agenda besar yang harus dilaksanakan jika ingin mengembalikan dinamika Islam ke tengah masyarakat. Lembaga-lembaga pendidikan Islam, terutama IAIN, memainkan peranan penting dalam hal ini.
Untuk tujuan tersebut, ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama, menguasai masa awal Islam yang simple sebagai bahan dasar-bahan yang dipakai para pendiri mazhab untuk membangun mazhabnya. Kedua, memahami masa dimana pertama kali institusionalisasi terjadi (atau masa dimana pertama kali mazhab-mazhab muncul). Kedua masa ini-masa awal Islam dan masa lahirnya mazhab-masuk ke dalam periode klasik Islam, yaitu masa yang membentang dari masa Nabi sampai Baghdad jatuh pada 1258. Masa ini merupakan masa yang sangat penting baik untuk memahami bangunan Islam sekarang maupun untuk membangun kembali pemahaman Islam yang akan datang.
Struktur Ajaran Islam
Abad ke 1 Hijrah. Pada masa ini Tuhan menurunkan wahyu yang [diyakini Muslim] paling sempurna ke dunia. Sebelumnya Tuhan menurunkan ajaranNya kepada nabi-nabi lain sejak Nabi Adam, tapi [bagi kaum Muslim] ajaranNya yang sempurna hanya diberikan kepada Nabi Muhammad. Sebagai penerima ajaran yang sempurna, Nabi Muhammad juga dianggap sebagai figur yang paling sempurna. Dibanding manusia lain yang pernah ada di dunia, termasuk nabi-nabi, Nabi Muhammad adalah yang terbaik. Demikian juga, umat Nabi Muhammad, sebagai umat yang menerima ajaran yang paling sempurna dari Nabi yang sempurna, adalah juga dipandang umat yang paling sempurna (kuntum khayra ummah). Dalam al-Qur'an disebutkan Nabi dan umatnya akan ditunjuk Tuhan untuk menjadi saksi ketika pengadilan di akhirat nanti terjadi (ummatan wasatan litakunu shuhada' 'ala al-nas).
Walaupun umat Nabi Muhammad, termasuk yang sekarang, dianggap umat yang terbaik yang tengah menjalankan ajaran Tuhan yang terbaik, masa yang paling penting tetap berada pada saat ketiga kesempurnaan itu ada secara bersamaan, yaitu pada abad pertama Hijrah ketika Nabi hidup menjalankan ajaran di tengah-tengah umatnya. Demikian juga, walaupun Muslim kontemporer adalah umat yang terbaik, tetapi yang paling baik diantara seluruh generasi Muslim adalah mereka yang pernah hidup semasa dengan Nabi, mereka yang bersama Nabi membangun masyarakat Islam.
Nabi dan umat sezamannya merupakan figur kunci dalam religiusitas orang Islam kapan pun. Apa yang dilakukan dan dikatakan mereka menjadi dasar hukum bagi orang Islam. Al-Qur'an dan Hadith Nabi adalah dua sumber ajaran Islam utama. Dari masa ke masa kedua sumber ini ditafsirkan dalam rangka menjawab berbagai macam persoalan pada zamannya. Produk dari penafsiran itu adalah tradisi Islam yang kaya raya, berupa mazhab-mazhab pemikiran (seperti Asy'ariyah, Mu'tazilah, Jabariyah dan Qadariyah dalam teologi; dan Maliki, Hanafi, Syafi'i dan Hanbali dalam fikih) yang kini terekam dalam buku-buku klasik. Semuanya itu adalah buah dari kembang yang ada pada abad pertama Hijriyah tersebut.
Abad ke 2-3. Kalau masa Nabi adalah masa dimana pertama kali kesempurnaan ajaran Tuhan diturunkan, maka abad 2-3 Hijriyah adalah masa dimana untuk pertama kali ajaran-ajaran Tuhan yang diturunkan pada abad pertama tersebut dijabarkan dan dikristalisasikan dalam berbagai mazhab. Dengan kata lain, Islam abadi yang sudah direduksi pada masa Nabi kini direduksi lagi oleh para pendiri mazhab.
Reduksi tingkat pertama selalu lebih baik dari reduski tingkat kedua. Reduksi tingkat pertama dilakukan Tuhan kepada manusia sempurna, Nabi. Reduksi tingkat kedua dilakukan oleh manusia biasa (artinya, bukan Nabi). Reduksi yang pertama, karena dilakukan oleh Tuhan, mengandung misteri dan keagungan. Dia sakral. Reduksi kedua, karena dilakukan manusia, lebih mudah diurai, tahap-tahapannya lebih mudah direkontruksi. Dia tidak sakral. Orang dianjurkan berwudu untuk menyentuh al-Qur'an (sebagai hasil dari reduksi tingkat pertama), dan membacanya bisa mendatangkan suasana spiritual dan mistik. Tidak demikian halnya dengan membaca buku al-Syafi'i (sebagai hasil reduksi tingkat kedua), misalnya.
Tapi lepas dari perbedaan kedua tingkat reduksi tersebut, satu hal sama-sama dimiliki oleh kedua moment penting tersebut: sebagai 'yang pertama,' produk keduanya mengandung otoritas. Al-Qur'an dan buku al-Syafi'i, misalnya, senantiasa menjadi rujukan bagi masyarakat Islam yang datang belakangan. Ada orang yang menganggap reduksi tingkat pertama identik dengan kesempurnaan ajaran Tuhan, dan mengikuti apapun yang ada pada masa itu secara literal. Ada juga yang menganggap reduksi tingkat kedua sebagai identik dengan kebenaran Tuhan, dan mengikuti putusan-putusan mazhab secara literal. Dua pilihan itu sama-sama menafikan proses sebagai sesuatu yang esensi dalam Islam.
Sesuatu 'yang pertama' selalu penting dan menentukan, karena di sinilah letaknya bagaimana sesuatu tersebut bermula. Di sinilah berbagai ketegangan terjadi, tarik-tarikan antara berbagai macam variable terjadi: tarik-tarikan antara kesempurnaan langit dengan keterbatasan bumi pada kasus Nabi; dan tarik-tarikan antara kesempurnaan Nabi dengan keterbatasan manusia biasa pada kasus pembentukan mazhab. Pada kasus Nabi ada reduksi tingkat pertama, pada kasus mazhab ada reduksi tingkat kedua (reduksi dari reduksi).
Kalau mampu mengurai bagaimana reduksi terjadi, bagaimana tarik-tarikan bekerja, pada kedua tingkatan itu, maka akan sampai kepada pemahaman yang baik tentang Islam. Dengan memahami proses reduksi tingkat pertama, dari makna abadi di wilayah Tuhan ke makna yang dibatasi ruang dan waktu pada masa Nabi, seseorang bisa memahami mana tradisi Arab abad ke 7 dan mana Islam yang universal. Yang akan diterapkan adalah Islam, bukan tradisi Arab. Lewat pemahaman proses reduksi tingkat kedua, dari ajaran Nabi dan sahabatnya ke mazhab oleh para pendirinya, sesorang akan bisa menjawab posisi mazhab-mazhab pemikiran dalam Islam. Haruskah kaum Muslim terus mengikuti Imam Shafi'i?
Al-Qur'an, dan Hadits serta sejarah hidup Nabi adalah reduksi dari realitas wilayah langit. Sebagai reduksi, dia tidak persis sama dengan makna abadi yang merupakan bentuk asli agama. Walau begitu harus dicatat bahwa, karena Nabi adalah makhluk yang terbaik dan al-Qur'an adalah ungkapan yang terbaik, maka sejarah hidup Nabi dan al-Qur'an, serta kata-kata Nabi adalah bentuk reduksi dunia langit yang terbaik yang mungkin dimiliki oleh umat Islam. Atau dengan kata lain, al-Qur'an dan Nabi adalah pintu terbaik yang kaum Muslim miliki untuk memahami Islam.
Karena al-Qur'an dan hadith Nabi adalah ungkapan yang terbaik yang dipunyai, maka umat Islam harus tahu persis bagaimana ungkapan yang terbaik itu sebenarnya. Seperti dikatakan al-Qur'an dan Hadits Nabi, kaum Muslim harus mecontoh dan mengikuti Nabi. 'Mencontoh' dan 'mengikuti' hanya mungkin dilakukan kalau mereka tahu persis apa yang sebenarnya terjadi pada masa Nabi. Historisitas menjadi penting. 'Apa sebenarnya yang telah terjadi' menjadi penting untuk direkonstruksi oleh semua umat Islam.
Tapi pada level kedua, karena Al-Qur'an dan Hadits Nabi itu terhubungkan dengan dunia langit, maka selain mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, seseorang juga harus mampu menemukan makna apa sebenarnya yang ada di balik kata-kata atau peristiwa tersebut. Jawaban ini, karena terkait dengan dunia langit, tidak ada yang tahu. Hanya Tuhanlah yang tahu sebenarnya, dan karena itu para ulama selalu mengatakan 'wallalu a'lam bi al-sawab' ketika dia mengkahiri sebuah bahasan. Dan karena tidak ada yang persis tahu maka jawaban terhadap pertanyaan ini tidak satu. Jamak, plural.
Ajaran Islam yang sebenarnya adalah ajaran Nabi sebelum mengalami reduksi. Inilah yang harus ditangkap. Berbagai macam tafsiran al-Qur'an, dan berbagai macam mazhab ditulis dalam rangka menangkap kesempurnaan ajaran Islam tersebut. Manusia, sebagai amkhluk yang tidak sempurna tentu tidak akan mampu menangkap sepenuhnya kesempurnaan ajaran Tuhan. Dan di sinilah esensi dari beragama: ada dinamika, ada pencarian yang terus menerus, proses menjadi yang tanpa batas. Kata 'Islam' sendiri' berarti 'sedang berusaha selamat'. (Bukan 'silm' yang berati 'selamat'). 'Muslim', berbeda dengan 'Salim', adalah 'orang-orang yang sedang berusaha menjadi Islam'. Dalam berislam ada dinamika, ada usaha yang terus menerus, bahkan usaha dan dinamika adalah esensi dari berislam. Dalam pengertian ini, orang yang tidak memiliki dinamika di dalam dirinya bisa disebut non-Muslim.
Dialog dengan Sumber Utama
Ada komponen penting pada suatu permulaan: kesederhanaan. Sesuatu yang pertama selalu sederhana, simple, mudah dipahami, dan merakyat. Ajaran-ajaran Nabi seperti yang terungkap dalam Hadits-Hadits Nabi menggambarkan keadaan ini. Karena simple, selain mudah dipahami, ajaran-ajaran Islam juga sangat fleksibel. Penyebaran Islam ke wilayah yang lebih luas dan kemampuan beradaptasi dengan komunitas lokal hanya mungkin terjadi jika ada fleksibelitas. Sesuatu yang simple, sederhana selalu mampu merangkul masyarakat yang lebih luas.
Contoh yang bagus adalah syahadat dan aqidah. Jika seorang ingin masuk Islam, dia diwajibkan mengucapkan syahadat, yaitu kesaksian bahwa hanya Allahlah Tuhan yang Esa dan bahwa Muhammad adalah utusanNya. Hanya ucapan itu, tidak ada upacara atau kegiatan ritual lain yang kompleks. Pada perkembangan berikutnya muncul apa yang bernama aqidah. Kalau syahadat adalah komitmen individu, maka aqidah adalah komitmen suatu kelompok. Dengan kata lain, aqidah adalah syahadatnya masyarakat. Syahadat hanya satu dan dari orang ke orang ungkapannya sama. Aqidah jumlahnya banyak (Wasiyat Abu Hanifah, Aqidah Tahawiyah dll) dan ungkapannya beragam.
Yang menjadi perhatian utama adalah persoalan pengungkapan dan kaitannya dengan waktu. Syahadat, sebagai bagian dari permulaan, sangat simpel. Ungkapannya pendek. Aqidah, bagian dari masa belakangan, lebih kompleks dan ungkapannya panjang sekali. Tidak seperti Syahadat, aqidah mengharuskan penganutnya untuk mengakui banyak hal: mulai dari pengakuan keesaan Tuhan, sifat-sifat Tuhan, kalam Tuhan, sampai ke pengakuan bahwa mengusap sepatu itu wajib dan barang siapa yang mengingkarinya maka dia terancam menjadi kafir. Orang yang tidak mengakui salah satu komponen aqidah itu akan dianggap sebagai 'orang lain' atau bukan bagian dari masyarakat (jama'ah). Keyakinan yang berkembang di luar jama'ah disebut sekte.
Kalau menggunakan aqidah sebagai acuan dalam beragama, maka seseorang telah keluar dari simplisitas dan menghadirkan kompleksitas beragama yang menyulitkan orang untuk berislam. Sebaliknya kalau menggunakan syahadat, seseorang akan kembali ke simplisitas dan memudahkan orang untuk berislam. Semakin simpel suatu ajaran, semakin sedikit kata-kata yang dibuat, semakin banyak masyarakat yang bisa dimasukkan ke dalamnya. Semakin rumit sebuah ajaran, semakin panjang sebuah rumusan doktrin, semakin banyak orang yang tersingkirkan. Seperti perintah, "Semua orang masuk!" Dengan tiga kata ini tidak ada seorangpun yang disingkirkan. Tetapi begitu ditambah satu kata lagi (menjadi 4 kata), "Semua orang Padang masuk." Selain orang Padang tidak boleh masuk. Banyak orang tersingkirkan. Kalau ditambah satu kata lagi (menjadi 5 kata), "Semua orang Padang kaya masuk." Semakin banyak lagi orang yang tersingkirkan. Proses seperti ini telah terjadi pada rumusan doktrin Islam.
Semua itu tidak untuk mengatakan bahwa perluasan doktrin atau penjabaran Islam tidak perlu ada. Simplisitas Islam ketika memasuki suatu masa tertentu atau tempat tertentu perlu dipadukan dengan budaya lokal. Simplisitas harus dibiarkan terbuka supaya orang bisa masuk beserta semua kekayaan imajinasi, fikiran dan budayanya. Ini adalah proses yang tidak bisa dihindarkan. Budaya Islam berkembang dengan pesat justeru karena kesiapan Islam untuk dimasuki orang-orang banyak, ide banyak. Jika simplisitas dibekukan, maka Islam tidak akan bisa berkembang. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk.
Tidak juga berarti bahwa simplisitas itu tidak diperlukan lagi. Masyarakat Islam awal adalah suatu bahan dasar yang bisa dipakai untuk membangun berbagai ekspresi Islam. Problem masyarakat yang semakin kompleks memerlukan rumusan Islam yang sepadan. Beragama memerlukan proses pemilikan. Islam harus menjadi bagian dari individu dan masyarakat. Proses pemilikan melibatkan dialog yang kompleks antara individu dan masyarakat, dengan segala kekayaannya-baik budaya, sejarah maupun kepentingan-dengan Islam. Hasilnya tidak lagi Islam yang simpel. Komplikasi adalah suatu keharusan dalam proses pemilikan. Jika hal tersebut tidak terjadi, Islam yang dianut akan menjadi Islam yang teralienasi dari dunia nyata. Tetapi rumusan baru yang kompleks tersebut harus bisa diturunkan lagi setiap saat ke dalam bentuk simplenya yang asli. Ketika kompleksitas telah berubah menjadi belenggu yang membingungkan, baik itu terjadi pada tingkat individu maupun generasi, akan ada tempat untuk kembali. Kembali ke kesederhanaan, kembali ke bahan baku, untuk kemudian kembali membuat kesepakatan-kesepakatan baru, bangunan-bangunan baru.
Simplisitas-kompleksitas dalam Islam juga bisa dilihat pada tingkat sumber. Pada masa awal sumber Islam hanya al-Qur'an dan Hadits Nabi. Belum ada ijma`, belum ada qiyas. Belum ada buku mazhab, baik dalam bidang fikih maupun teologi. Pada masa itu al-Qur'an dan Hadits Nabi langsung berhadapan dengan tradisi lokal, dengan realitas masyarakat. Suasana yang sama sekali berbeda dengan saat ini. Sekarang al-Qur'an dan Hadits sudah dibentengi oleh berbagai tradisi dan buku. Al-Qur'an dan Hadits Nabi tidak lagi berdialog langsung dengan realitas kekinian, tapi diperantarai oleh buku dan tradisi tersebut, yang sering sangat kokoh sehingga tidak tembus-sehingga akhirnya tidak lagi merasakan keindahan dan kesucian al-Qur'an-yang sering tidak paham dengan tradisi tertentu, dengan persoalan tertentu.
Menghadirkan al-Qur'an dan Hadits langsung kehadapan umat masa kini, tanpa perantara, juga berarti mengembalikan otoritas kedua sumber itu. Kembali ke masa awal Islam yang simpel berarti mengembalikan rumusan-rumusan kebenaran al-Qur'an dan Hadits yang simpel. Dari kedua sumber inilah dimulai upaya membangun tradisi Islam yang baru, melakukan teoritisasi, problematisasi, mendialogkan kembali kedua sumber itu dengan kompleksitas persoalan nyata. Dengan kata lain, perlu melakukan hal yang persis dilakukan oleh generasi kaum Muslimin sebelum mazhab-mazhab terbentuk. Besar kemungkinan hasil dialog tersebut akan melahirkan mazhab-mazhab baru, seperti halnya generasi abad ke 2-3 masyarakat Islam yang melahirkan Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali. Mazhab yang terbentuk adalah mazhab yang lahir langsung dari al-Qur'an. Bukan mazhab yang lahir dari mazhab. Hubungan dengan mazhab-mazhab tersebut tidak instruktif, tapi aspiratif. Hasil pemikiran yang dikembangkan di IAIN bisa jadi tidak merupakan kelanjutan darti mazhab-mazhab tersebut. Bisa jadi ada loncatan, ada sesuatu yang sama sekali baru. Hal ini sangat mungkin terjadi, mengingat usia mazhab-mazhab (fikih) sekarang sudah lebih dari 1000 tahun.
Menjadikan mazhab-mazhab yang ada sebagai sumber aspirasi tidak sama dengan merendahkan kedudukan mazhab-mazhab tersebut. Sekali lagi perlu ditegaskan mazhab-mazhab tersebut adalah mazhab pertama yang terinstitusionalisasi dalam Islam. Sebagai yang pertama ia juga memiliki otoritas, tentu saja pada level yang berbeda dengan al-Qur'an dan Hadits. Dari mazhab-mazhab itulah Muslim kontemporer bisa berkaca bagaimana problem-problem masyarakat mereka diadukan kepada al-Qur'an dan Hadits. Dalam hal ini proses institusionalisasi menjadi lebih penting diperhatikan daripada hasilnya.
Arti Bermazhab
Bagaimana berkaca pada mazhab? Ambil contoh Abu Hasan al-Asy'ari (wafat th. 324/935), tokoh penting di balik pendirian mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah yang kini menjadi anutan masyarakat Islam di Indonesia. Bagaimana cara memposisikan pendiri mazhab Asy'ariyyah ini?
Pertama perlu ditegaskan kembali bahwa suatu pemikiran muncul karena adanya tantangan. Jenis pemikiran akan ditentukan oleh jenis tantangan. Untuk memahami suatu pemikiran, seseorang harus memahami dulu tantangan apa yang dihadapi oleh para pemikir pada masa itu. Persoalan apa sebenarnya yang tengah dijawab, problem apa yang tengah dipikirkan. Abu Hasan al-Asy'ari merumuskan pikiran teologinya karena adanya tantangan Mu'tazilah. Yang terakhir ini, sebagai akibat dari kajian filsafat, berusaha memasukkan elemen akal yang lebih besar ke dalam interpretasi wahyu. Kontroversi ini terkristalisasi dalam beberapa persoalan seperti sifat Tuhan, kalam Allah, perbuatan manusia dll. Karena pikiran al-Ay'ari merupakan reaksi atau jawaban dari lontaran Mu'tazilah, maka isi pikiran al-Asy'ari akan ditentukan oleh isu yang dilontarkan Mu'tazilah.
Buku, sebagai catatan suatu pemikiran, juga harus dipahami seperti itu. Suatu buku lahir dari konteks tertentu, pada suatu ruang dan waktu tertentu. Jika ingin memahami buku itu maka yang harus dilakukan adalah menyusun kembali konteks kelahiran buku tersebut, atau, dengan kata lain, sejarah yang mengitari kelahiran buku tersebut, totalitas realitas sejarah yang melahirkan buku atau karya tersebut. Kalau ini benar, maka kajian sejarah menjadi sangat penting dalam memahami sebuah teks. Pemahaman sejarah mendahului pemahaman teks.
Buku teologi Abu Hasan, karena ditulis sebagai respon terhadap pemikiran Mu'tazilah, ditentukan isinya oleh Mu'tazilah. Isunya isu Mu'tazilah. Tentu saja dengan jawaban yang berbeda. Buku Maqalat-nya berisi persoalan-persoalan yang memang sedang menjadi isu saat itu. Kalau ingin menggunakan teologi Asy'ariyah sekarang, apakah seseorang akan menganut pikirannya dalam persoalan-persoalan Mu'tazilah itu? Persoalan yang tidak menjadi isu besar dalam masyarakat saat ini? Apakah sekarang isu sifat Tuhan, misalnya, sedang diperdebatkan di wilayah publik di TV, koran, radio, seperti halnya hal itu diperdebatkan dengan media yang berbeda pada masa Abu Hasan al-Asy'ari? Muslim sekarang punya persoalan tersendiri, yang sama sekali bukan persoalan sifat Tuhan atau bisa tidaknya melihat Tuhan di akhirat. Muslim sekarang perlu rumusan teologi yang bisa menjawab persoalan kekinian mereka. Bukan teologi yang bisa memecahkan persoalan masa Abu Hasan al-Asy'ari.
Tentu saja warisan Abu Hasan, seperti halnya warisan tradisi Islam masa lalu lainnya, sangat penting dipelajari. Bukan untuk diikuti secara literal, tapi untuk dijadikan cermin. Ketika bercermin, yang muncul adalah bayangan sendiri, bukan bayangan Abu Hasan. Muslim sekarang membaca Abu Hasan untuk melihat diri sendiri, memahami masyarakat sendiri. Yang menjadi pusat perhatian adalah umat Islam kontemporer, persoalan kontemporer. Mereka boleh saja menjadi pengikut Abu Hasan. Tapi pengikut yang baik adalah pengikut yang bisa mengulangi event dia: bahwa dia maju ke depan berfikir mencari pemecahan problem pada masanya. Menjadi pengikut dia, berarti maju memikirkan dan mencari pemecahan problem pengikut itu sendiri. Problem Abu Hasan tidak mesti diikuti. Isi buku Abu Hasan tidak mesti dihafalkan dan diyakini sampai berkeyakinan bahwa teologi yang dianut isinya sama dengan isi buku Abu Hasan. Teologi kontemporer adalah teologi masa kontemporer, teologi yang berisi kata-kata sendiri, yang merujuk pada benda-benda yang ada di sekitar umat saat ini.
Tentu saja seseorang baru bisa merumuskan teologi yang tepat untuk dirinya kalau ia paham apa persoalannya. Teologi suatu generasi, atau aliran pemikiran apapun dalam suatu generasi, adalah jawaban generasi tersebut pada persoalan mereka. Pada saat itu aliran pemikiran tersebut memang cocok (karena memang dirumuskan untuk memecahkan persoalan mereka). Kalau seseorang ingin merumuskan paham keagamaan yang cocok buat dirinya, pertama-tama ia harus paham apa problem dirinya. Kesalahan mengidentifikasi problem akan melahirkan rumusan pikiran yang salah buat dirinya.
Walaupun teologi banyak disebut, uraian di atas juga berlaku untuk ekspresi Islam lainnya, misalnya fikih. Fikih adalah rumusan manusia tentang persoalan hukum pada masanya. Fikih al-Syafi'i adalah fikih yang ditulis untuk menjawab persoalan hukum masanya. Apa persoalan masa kini? Apakah persoalan umat sekarang sama dengan persoalan yang dihadapi oleh imam Syafi'i?, sehingga kalau ingin mengikuti mazhab Syafi'i berarti harus mengikuti semua apa yang dia tulis dalam bukunya, lepas dari apakah apa yang dia tulis itu relevan buat Muslim saat ini? Atau apakah juga menjadi pengikut al-Syafi'i berarti mengikuti jejaknya dalam hal memacu dirinya untuk menjawab persoalan pada masanya?
Kembali ke Abu Hasan. Pada tingkat pertama, menjadi pengikut Abu Hasan berarti mencontoh dia dalam hal keteguhan dan keyakinan serta ketekunannya dalam menjawab tantangan pada masanya untuk menciptakan kemaslahatan umat masanya. Pada level kedua, menjadi pengikutnya berarti mengikuti ajaran dia. Tapi ajaran dia tidak identik dengan apa yang dia katakan dalam buku-buku mereka. Jadi apa ajaran mereka? Ajaran mereka bukan pada level detil, yaitu bahwa Qur'an itu bukan mahluk atau bahwa seseorang pasti melihat Tuhan di akhirat, tapi pada tingkat prinsip yang lebih tinggi. Apa itu? Seseorang akan melihat suatu contoh yang menjadi salah satu isu utama pada masa Abu Hasan: hubungan antara Tuhan dengan sifatNya.
Pada waktu kalangan ahli Hadits mengatakan bahwa dhat Tuhan itu berbeda dengan sifatNya dan bahwa sifat Tuhan itu abadi maka persoalanpun muncul. Dhat Tuhan abadi. Sifat Tuhan, yang ada dalam diri Tuhan, juga abadi. Bukankah itu berarti mengakui adanya dua keabadian dalam diri Tuhan (yaitu dhat dan sifatNya)?
Abu al-Hudhayl (wafat th. 226/840), salah seorang tokoh Mu'tazilah, berkeyakinan bahwa mengakui sifat Tuhan sebagai berbeda dengan dhatNya adalah sirik. Dhat Tuhan itu, menurutnya, tidak berbeda dengan sifatNya. Dhat Tuhan adalah sifatNya. SifatNya adalah dhat Tuhan. Lalu dengan apa Tuhan mengetahui? Tuhan mengetahui bukan dengan 'sifat mengetahui' yang ada dalam dhatNya, tapi lagsung dengan dhatNya. Dhat Tuhan itu adalah ilmu. Ilmu adalah dhat Tuhan. Dalam pandangan Mu'tazilah, inilah tawhid yang sebenarnya (dan karena itu mereka menamakan dirinya ahli tawhid).
Abu Hasan menolak pandangan Mu'tazilah tersebut. Tuhan berfirman dalam al-Qur'an bahwa Dia itu memiliki sifat. Nabi juga menyatakan begitu. Sahabat Nabi juga menyatakan begitu. Penolakan Mu'tazilah pada sifat Tuhan adalah penolakan pada kata-kata Tuhan, Nabi dan sahabatnya.
Pada saat yang sama Abu Hasan juga tidak setuju dengan pandangan ahli Hadits yang mengatakan bahwa sifat Tuhan itu berbeda dengan dhatNya. Mengatakan bahwa sifat Tuhan itu berbeda dengan dhatNya dan bahwa sifatNya itu abadi memang akan menggiring pada pemahaman adanya dualisme dalam diri Tuhan. Ini tidak benar. Yang benar-setelah diperdebatkan di kalangan para pengikut Abu Hasan sendiri-adalah "Sifat Tuhan itu bukan Tuhan dan bukan juga bukan Tuhan (laa huwa walaa ghayruh)."
Doktrin yang dirumuskan oleh kelompok Asy`ariyah itu seperti dua sisi mata uang. Ia adalah penolakan dan sekaligus juga pengakuan terhadap kedua kelompok yang bertikai di atas. Lewat "Sifat Tuhan itu bukan Tuhan" mereka tolak Mu'tazilah dan mereka rangkul ahli Hadits yang berpendapat bahwa sifat Tuhan itu berbeda dengan Tuhan. Lewat "Bukan juga bukan Tuhan", mereka tolak ulama Hadits dan mereka rangkul orang Mu'tazilah yang menyamakan Tuhan dengan sifatnya. Dua-duanya ditolak dan dua-duanya diterima dalam waktu yang bersamaan.
Sebelum doktrin Asy'ariyah tentang sifat Tuhan itu diterima oleh kebanyakan orang Sunni, termasuk Nahdlatul Ulama (NU), Abu Hasa al-Asy'ari dan pengikutnya menjadi bulan-bulanan kedua kelompok yang berusaha dia kompromikan. Oleh Mu'tazilah dia ditolak, oleh ulama salaf juga tidak disukai. Keduanya sama-sama merasa tidak terwakili. Sampai abad ke 12 para pengikut al-Asy'ari masih harus bertarung di jalan-jalan Baghdad melawan pendukung Mu'tazilah dan pendukung ahli Hadits.
Bagaimana Asy`ariyah sekarang bisa diterima oleh kebanyakan umat? Rahasia di balik rumusan ajaranya mungkin bisa membantu untuk menjawabnya. Semangat dari rumusan "Sifat Tuhan itu bukan Tuhan dan bukan juga bukan Tuhan" adalah bahwa realitas Tuhan itu bukan seperti yang dijelaskan baik oleh Mu'tazilah maupun oleh ahli Hadith. Definisi yang mereka rumuskan sama-sama tidak mampu menghadirkan eksistensi Tuhan yang sebenarnya. Makanya ditolak.
Kalau begitu, rumusan yang diajukan Asy`ariyah itu sesungguhnya bukan sebuah definisi, tapi lebih berupa sebuah pengakuan yang tulus: pertama, pengakuan terhadap usaha Mu'tazilah dan ahli Hadith untuk memahami realitas Tuhan; kedua, pengakuan bahwa realitas Tuhan itu jauh lebih kompleks dari deskripsi yang dibuat oleh Mu`tazilah dan oleh ulama salaf (dan oleh manusia manapun).
Lalu apa artinya menjadi pengikut Abu Hasan al-Asy'ari? Artinya berislam menurut prinsip Abu Hasan: mengakui relativitas setiap deskripsi tentang Tuhan dan ajaranNya, memberi hak kepada masing-masing kelompok pembuat deskripsi tersebut untuk terus ada, dan menghindari ekstrimitas dalam berislam. Posisi Abu hasan adalah posisi tengah, yang berusaha menjembatani berbagai ekstrimitas berbagai pihak yang bersebrangan. Menjadi pengikut Abu Hasan adalah memegang teguh prinsip ini. Persoalan-persoalan luar yang dia diskusikan pada masanya, seperti persoalan Tuhan dan sifatNya, bagi Muslim sekarang ada pada lapisan kedua. Mengajarkan teologi Asy'ariyah di lembaga-lembaga pendidikan Islam, termasuk IAIN, harus dikonsentrasikan pada lapisan pertama, pada lapisan prinsip. Langkah berikutnya adalah melihat lapisan pertama tersebut dengan kaca mata awal Islam: Apakah dia punya dasar kuat dalam al-Qur'an dan Hadith? Apakah ini posisi yang diambil Nabi?
Ilmu Bantu
Islam adalah agama Tuhan untuk manusia. Berasal dari Tuhan, Islam adalah agama Tuhan. Buat manusia, Islam adalah agama manusia. Tuhan dan manusia adalah dua realitas yang tidak bisa dipisahkan dari agama. Tanpa salah satunya agama tidak akan ada.
Karakteristik dua realitas ini sama sekali berbeda. Tuhan adalah realitas yang sangat luhur dan tak terbatas. Manusia adalah realitas yang rendah dan penuh dengan keterbatasan. Di wilayah Tuhan ada makna abadi. Tuhan menghendaki supaya makna tersebut dipahami manusia. Supaya bisa dipahami, makna yang ada di wilayah Tuhan tersebut harus direduksi sedemikian rupa sehingga manusia mampu menangkapnya. Dengan kata lan, makna itu harus diperkecil, dibuat miniaturnya, sebab kalau tidak begitu, manusia yang sangat terbatas ini tidak akan mampu menangkapnya.
Islam, dengan demikian, hanya bisa dipahami dengan baik manakala perhatian Muslim ditujukan pada dua wilayah sekaligus: wilayah Tuhan dan wilayah manusia. Ajaran-ajaran Islam yang ada di wilayah Tuhan perlu ditangkap dan dipahami, dan ajaran Tuhan tersebut bisa ditangkap lewat wilayah manusia. Apa yang ada di wilayah manusia adalah pintu masuk memasuki dunia langit. Agama, kitab suci, Nabi adalah pintu memasuki dunia langit. Untuk memahami dunia langit seseorang harus memahami dunia manusia, memahami kitab suci, memahami Nabi. Tanpa pemahaman itu dunia langit tidak akan bisa ditangkap dengan baik.
Oleh karena agama pada dasarnya untuk manusia, maka sebagian kebenaran agama juga ada pada manusia. Karena ada manusialah agama ada. Yang membenarkan agama adalah manusia. Manusia demikian penting posisinya dalam agama. Dia adalah titik temu antara dunia langit dan dunia bumi. Sebagai titik pertemuan, manusia menjadi unik. Mengkaji keunikan manusia-dengan segala produknya, termasuk budaya, tradisi, bahasa, ilmu pengetahuan dan teknologi-adalah sebuah kemestian dalam memahami agama. Dalam rangka inilah ilmu-ilmu seperti filsafat, sosiologi, antropologi, dan psikologi, menjadi penting untuk dikaji di IAIN.
Ilmu-ilmu sosial seperti itu bukan hanya baik untuk memahami Islam juga mutlak diperlukan untuk menerapkan Islam. Agama Islam harus diterapkan dalam tingkah laku. Karena itu dalam merealisasikan Islam umat Islam kontemporer harus mengetahui diri mereka sendiri, kelebihan dan kekurangan mereka, apa kemauan dan cita-cita mereka. Islam persis diturunkan untuk tujuan-tujuan itu: membantu manusia untuk hidup makmur, adil, bahagia.
Penutup
Ditegaskan bahwa masa klasik-masa yang membentang dari abad ke-1 H/ ke-7 sampai jatuhnya Baghdad pada abad ke-7 H/ ke-13 M-adalah masa dimana dua peristiwa penting terjadi. Pertama, diturunkannya wahyu secara sempurna ke dunia lewat Nabi Muhammad; kedua, dilembagakannya wahyu tersebut dalam berbagai mazhab yang dianut masyarakat Islam sekarang. Produk kedua peristiwa tersebut-yaitu al-Qur'an, Hadith Nabi, Sirah (sejarah hidup Nabi), Maghazi (sejarah peperangan Nabi) pada peristiwa pertama dan buku-buku yang ditulis para imam mazhab dan pengikut mereka pada peristiwa kedua-beserta konteks yang mengitarinya tersimpan dalam khazanah buku-buku yang sangat kaya. Buku-buku tersebut mutlak diperlukan dalam keberagamaan masyarakat Muslim sekarang. Baik kelompok yang ingin mengikuti warisan itu secara utuh (yang ingin mengikuti al-Qur'an dan Hadith Nabi serta ajaran-ajaran para pendiri mazhab sepersis mungkin) ataupun kelompok yang ingin mengikuti warisan tersebut secara terbuka (mempelajari warisan tersebut lewat konteks yang melahirkannya dan berusaha menarik semangat yang ada di balik ekspresi verbal warisan tersebut kemudian menerapkannya kembali dalam konteks mereka yang berbeda dengan ekspresi verbal bisa jadi berbeda) tidak mungkin melepaskan diri dari khazanah klasik tersebut.
Dengan kata lain, hanya lewat penguasaan tradisi klasik tersebutlah bangunan Islam mungkin didirikan. Reinterpretasi, tajdid, gerakan Salafi, kontekstualisasi, atau apapun bentuk gerakan yang muncul di masyarakat Islam, hanya mungkin berdiri dengan kokoh kalau dia berakar kuat dalam tradisi Islam klasik. Pilihan arah dan bentuk kajian Islam, baik di IAIN maupun di lembaga-lembaga kajian Islam lainnya, harus berpijak pada tradisi Islam klasik. Al-Qur'an, Hadith, dan karya-karya imam mazhab harus menjadi pijakan.
Warisan Islam klasik tersebut tentu harus dibaca dengan kreatif. Untuk itu pemahaman tentang manusia-sebagai penerima dan pelaksana agama-beserta produknya (budaya, ilmu, teknologi) mutlak diperlukan. Tuhan dan manusia, langit dan bumi, seperti dua sisi mata uang dalam agama. 


Pendidikan Islam Harus Beragam

Pendidikan Islam Harus Beragam
Abdurrahman Wahid

Dalam sebuah dialog tentang pendidikan Islam, berlangsung di Beirut (Lebanon) tanggal 13-14 Desember 2002 yang diselenggarakan oleh Konrad Adenauer Stiftung, ternyata disepakati adanya berbagai corak pendidikan agama, hal ini juga berlaku untuk pendidikan Islam. Walaupun ada beberapa orang yang terus terang mengakui, maupun yang menganggap pendidikan Islam yang benar haruslah mengajarkan “ajaran formal” tentang Islam. Termasuk dalam barisan ini adalah dekan-dekan Fakultas Syari’ah dan Perundang-undangan dari Universitas Al-Azhar di Kairo. Diskusi tentang mewujudkan “pendidikan Islam yang benar“ memang terjadi, tapi tidak ada seorang peserta-pun yang menafikan dan mengingkari peranan berbagai corak pendidikan Islam yang telah ada. Penulis sendiri membawakan makalah tentang pondok pesantren sebagai bagian dari pendidikan Islam.
Dalam makalah itu, penulis melihat pondok pesantren dari berbagai sudut. Pondok pesantren sebagai “lembaga kultural” yang menggunakan simbol-simbol budaya jawa; sebagai “agen pembaharuan” yang memeperkenalkan gagasan pembangunan pedesaan (rural development); sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat (centre of community learning); dan juga pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang bersandar pada silabi, yang dibawakan oleh Imam Al- Suyuti lebih dari 500 tahun-nan yang lalu, dalam Itman al-dirayah. Silabi inilah yang menjadi dasar acuan pondok pesantren tradisional selama ini, dengan pengembangan “kajian Islam” yang terbagi dalam 14 macam disiplin ilmu yang kita kenal sekarang ini, dari nahwu/ tata bahasa arab klasik hingga tafsir al-Qur’an dan teks hadist nabi, semuanya dipelajari dalam lingkungan pondok pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam. Melalui pondok pesantren juga nilai ke-Islam-an ditularkan dari generasi ke generasi.
Sudah tentu, cara penularan seperti itu merupakan titik sambung pengetahuan tentang Islam secara rinci, dari generasi ke generasi. Di satu sisi, ajaran-ajaran formal Islam dipertahankan sebagai sebuah “keharusan” yang diterima kaum muslimin diberbagai penjuru dunia. Tetapi, disini juga terdapat “benih-benih perubahan”, yang membedakan antara kaum muslimin di sebuah kawasan dengan kaum muslimin lainnya dari kawasan yang lain pula. Tentang perbedaan antara kaum muslimin di suatu kawasan ini, penulis pernah mengajukan sebuah makalah kepada Universitas PBB di Tokyo pada tahun 1980-an. Tentang perlu adanya “study kawasan” tentang Islam di lingkungan Afrika Hitam, budaya Afrika Utara dan negeri-negeri Arab, budaya Turki-Persia-Afghan, budaya Islam di Asia Selatan, budaya Islam di Asia Tenggara dan budaya minoritas muslim di kawasan-kawasan industri maju. Sudah tentu, kajian kawasan (area study's) ini diteliti bersamaan dengan kajian Islam klasik (classiccal Islamic study’s).
*******
Pembahasan pada akhirnya lebih banyak ditekankan pada dua hal yang saling terkait dalam pendidikan Islam. Kedua hal itu adalah, pembaharuan endidikan Islam dan modernisasi pendidikan Islam, dalam bahasa Arab taj’did al-tarbiyah al-Islamiah dan al-hadasah, dalam liputan istilah pertama, tentu saja ajaran-ajaran formal Islam harus diutamakan, dan kaum muslimin harus di didik mengenai ajaran-ajaran agama mereka. Yang diubah adalah cara penyampaiannya kepada peserta didik, sehingga mereka akan mampu memahami dan mempertahankan “kebenaran”. Bahwa hal ini memiliki validitas sendiri, dapat dilihat pada kesungguhan anak-anak muda muslimin terpelajar, untuk menerapkan apa yang mereka anggap sebagai “ajaran-ajaran yang benar” tentang Islam, contoh paling mudahnya adalah menggunakan tutup kepala di sekolah non-agama, yang di negeri ini dikenal dengan nama jilbab. Ke-Islaman lahiriyah seperti itu, juga terbukti dari semakin tingginya jumlah mereka dari tahun ke-tahun yang melakukan ibadah umroh/ Haji kecil.
Tentu saja, kenyataan seperti itu tidak dapat diabaikan di dalam penyelenggaraan pendidikan Islam di negeri manapun. Dengan kata lain, pendidikan Islam tidak hanya di sampaikan dalam ajaran-ajaran formal Islam di sekolah-sekolah agama/madrasah belaka, melainkan juga melalui sekolah-sekolah non-agama yang berserak diseluruh penjuru dunia. Demikian juga, “semangat menjalankan ajaran Islam”, datangnya lebih banyak dari komunikasi di luar sekolah, antara berbagai komponen masyarakat Islam. Hal lain yang harus diterima sebagai kenyataan hidup kaum muslimin di mana-mana, adalah respon umat Islam terhadap “tantangan modernisasi”, seperti pengentasan kemiskinan, pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya, adalah respon yang tak kalah bermanfaatnya bagi pendidikan Islam, yang perlu kita renungkan secara mendalam.
Pendidikan Islam, tentu saja harus sanggup “meluruskan” responsi terhadap tantangan modernisasi itu, namun kesadaran kepada hal itu justru belum ada dalam pendidikan Islam di mana-mana. Hal inilah yg merisaukan hati para pengamat seperti penulis, karena ujungnya adalah diperlukan jawaban yang benar atas pernyataan berikut: Bagaimanakah caranya membuat kesadaran struktural sebagai bagian natural dari perkembangan pendidikan Islam? Dengan ungkapan lain, kita harus menyimak perkembangan pendidikan Islam di berbagai tempat, dan membuat peta yang jelas tentang konfigurasi pendidikan Islam itu sendiri. Ini merupakan pekerjaan rumah, yang mau tak mau harus ditangani dengan baik.
******
Jelas dari uraian diatas, pendidikan Islam memiliki begitu banyak model pengajaran baik yang berupa pendidikan sekolah, maupun “pendidikan non-formal” seperti pengajian, arisan dan sebagainya. Tak terhindarkan lagi, keragaman jenis dan corak pendidikan Islam terjadi seperti kita lihat di tanah air kita dewasa ini. Ketidakmampuan memahami kenyataan ini, yaitu hanya melihat lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan madrasah di tanah air sebagai sebuah institusi pendidikan Islam, hanyalah akan mempersempit pandangan kita tentang pendidikan Islam itu sendiri. Ini berarti, kita hanya mementingkan satu sisi belaka dari pendidikan Islam, dan melupakan sisi non-formal dari pendidikan Islam itu sendiri. Tentu saja menjadi berat tugas para perencana pendidikan Islam, kenyataan ini menunjukkan di sinilah terletak lokasi perjuangan pendidikan Islam.
Dalam kenyataan ini haruslah diperhitungkan penjabaran tarekat dan gerakan shalawat nabi, yang terjadi demikian cepat dimana-mana. Tentu saja, “kenyataan yang diam” seperti itu sebenarnya berbicara sangat nyaring, namun kita sendiri yang tidak dapat menangkapnya. Seorang warga Islam yang memperoleh kedamaian dengan ritual memuja nabi itu, dengan sendirinya berupaya menyesuaikan hidupnya dari pola hidup nabi yang diketahuinya, yaitu kepatuhan kepada ajaran Islam. Ritual itu tentu saja akan menyadarkan kembali orang tersebut ,kepada kehidupan agama walaupun hanya bersifat parsial (Juz’i) belaka. Hal inilah yang seharusnya kita pahami sebagai “kenyataan sosial” yang tidak dapat kita pungkiri dan diabaikan.
Karenanya, peta “keberagaman” pendidikan Islam seperti dimaksudkan di atas, haruslah bersifat lengkap dan tidak mengabaikan kenyataan yang ada. Lagi-lagi kita berhadapan dengan kenyataan sejarah, yang mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Perkembangan keadaan, yang tidak memperhitungkan hal ini, mungkin hanya bersifat menina-bobokan kita belaka, dari tugas sebenarnya yang harus kita pikul dan laksanakan. Sikap untuk mengabaikan keberagaman ini, adalah sama dengan sikap burung onta yang menyembunyikan kepalanya di bawah timbunan pasir tanpa menyadari badanya masih tampak. Jika kita masih bersikap seperti itu, akibatnya akan menjadi sangat besar bagi perkembangan Islam di masa yang akan datang. Karenanya jalan terbaik adalah membiarkan keaneka-ragaman sangat tinggi dalam pendidikan Islam dan membiarkan perkembangan yang akan menentukan. Sebuah hal yang sulit dilakukan, namun gampang dirumuskan. Nyatanya memang benar demikian, bukan?


Yogyakarta, 21 Desember 2002
(sumber: Kedaulatan Rakyat, Jumat 27/12) 

http://www.ditpertais.net/artikel/gusdur01.asp